header

 

 

 

MENTERI DESA INGIN ADAPTASI PROGRAM TRANSMIGRASI DARI MALAYSIA

transmigrasi

Jakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo melakukan pertemuan dengan Lembaga Pembangunan Tanah Federal atau Federal Land Development Authority (FELDA) Malaysia, pada 2 Juni 2017.

Dalam pertemuan itu, Chairman FELDA, Tan Sri Shahrir Abdul Samad bercerita tentang salah satu metode unik FELDA yaitu metode pemberian lahan pada pemukim baru atau transmigran dalam bentuk cicilan sangat lunak, dengan jangka waktu pelunasan 20 tahun.

Transmigran yang mengikuti program itu juga akan mendapatkan jaminan penghasilan minimum, selama mereka mengelola lahan itu sebagai perkebunan kelapa sawit atau karet di bawah manajemen FELDA.

Tanah atau lahan itu tidak dapat dijual, namun dapat diwariskan kepada anak tertua secara turun temurun. Pihak FELDA mengakui ada banyak tantangan yang ditemukan di lapangan sehingga dibutuhkan komitmen serta supervisi yang efisien dan baik.

“Program ini perlu ditelaah lebih lanjut untuk bisa diadaptasikan di Indonesia,” ujar Eko. Dia menuturkan model program itu dapat membantu pemerintah dalam menjalankan reformasi agraria dan menyegarkan kembali program transmigrasi di Indonesia.

Eka menuturkan jaminan penghasilan kepada petani juga akan memberikan akses yang lebih luas pada permodalan yang selama ini menjadi masalah klasik dalam peningkatan kesejahteraan petani kecil Indonesia. “Jaminan penghasilan akan membuat para petani kecil menjadi bankable.”

FELDA adalah lembaga yang didirikan pemerintah Malaysia untuk menangani penataan kawasan pedesaan tertinggal untuk  meningkatkan menjadi suatu kawasan pedesaan baru dan berkembang. FELDA saat ini berfokus pada pengembangan ekonomi dan kegiatan bisnis.

FELDA juga telah mendirikan banyak perusahaan swasta, di mana yang terbesar adalah Felda Global Ventue Holdings, dengan luas 2.004.400 hektare yaitu perkebunan kelapa sawit, terutama di Semenanjung, Malaysia, dan termasuk Indonesia.

Search

Berita Terdahulu